Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Mencoba biasa.

Mencoba biasa tanpa s apaanmu setiap paginya Mencoba biasa tanpa senyum dari bibir lembutmu Mencoba biasa memiliki rindu tak tertahan seperti ini Mencoba biasa tanpa peluk hangat tubuhmu Mencoba biasa tanpa kecup lembut darimu Mencoba biasa tak ada kamu ditiap detik hidupku Tapi aku sudah terbiasa mencintaimu dan menambah cinta itu setiap harinya. Aku sudah terbiasa mendekap tubuhmu dengan kedua tanganku. Aku sudah terbiasa mendapat sapaan dan senyum lembut dari bibirmu. Aku sudah terbiasa ditemanimu setiap detiknya. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu! Apakah tanpamu akan menjadi kebiasaan baru bagiku? Apakah tiada sosokmu akan menjadi suasana baru bagiku? Apakah benar kita hanya ditakdirkan berjumpa untuk berpisah? Harap yang ada masih mekar dengan indah. Harap yang tertulis masih sabar untuk diselesaikan. Harap yang tumbuh masih terus bertumbuh tinggi. Harap itu hanya padamu.

Apakah kau masih mencintainya?

Apakah dia terlalu melekat dengan tubuhmu? Apakah dia terlalu berkesan di perjalananmu? Apakah kau terlalu mencintainya? Sebesar apa cinta yang kau beri padanya? Sebesar apa dia mendominasi hidupmu? Disaat semua rasa yang tercipta karenamu hanya bertepuk sebelah tangan ... Disaat cinta besarmu masih bersemayam di pelukannya ... Dan disaat hadirku hanya kau anggap semu ... Berapa lama lagi aku bertahan dengan keadaan yang kau anggap semu begini? Berapa lama kau akan tinggal dihatinya? Berapa lama lagi aku harus menunggu agar kau dapat mencintaiku sepenuh hatimu? Tidakkah dirimu lebih berat padanya? Tidakkah aku tak pantas untuk tetap dipertahankan? Tidakkah hatimu terpaku erat pada dirinya? Mengapa kau tetap bertahan padahal kau tak cinta. Mengapa kau berteriak padahal kau tak butuh. Mengapa kau ada padahal kau benci. Mengapa keadaan seperti ini yang kau buat?

Bagaimana bisa?

Dan ketika rasa ini berakhir layu. Ketika rasa ini tak kau gubris. Ketika rasa ini hanya menjadi hal yang menyiksa. Ketika kau pergi tanpa mempertanyakan apa yang kurasa ... Bagaimana aku bisa menyirami kembali rasa yang telah layu ini? Sedangkan kau telah menjauh, kau telah pergi ... Bagaimana caraku untuk mendapat perhatianmu? Sedangkan segala cara yang kubisa hanya berakhir sia-sia ... Bagaimana agar rasa ini menjadi hal yang menyenangkan? Sedangkan kau hanya berkutat dengan rasamu ... Bagaimana bisa kau pergi tanpa bertanya apa yang akan terjadi padaku selepas kau pergi? Bagaimana kau bisa mengetahui apa rasa yang kupendam padamu? Sedangkan kau tak pernah mempertanyakannya ...

Ketika bukan aku ...

Ketika bukan aku yang meredakan amarahmu . Ketika bukan aku yang menyingkirkan kesalmu. Ketika bukan aku yang melenyapkan sedihmu. Ketika aku hanya menjadi sosok yang berdiri terpaku disampingmu. Ketika waktu berucap bahwa bukanlah aku yang pantas mendampingmu. Aku bisa apa jika aku memang bukan jodohmu? Aku bisa apa jika memang kau tak pernah merasa nyaman di pelukanku? Aku bisa apa jika kau selalu teriak bahwa bukanlah aku yang kau mau? Apa yang harus kulakukan untuk mengubahmu? Entah kapan sikapku akan membuatmu lupa akan amarah .. Entah kapan ucapanku akan meruntuhkan sedih .. Entah kapan aku bisa menjadi sosok yang kau harapkan ...