Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Hanya begini saja ...

Maaf aku mencintaimu dengan cara seperti ini. Maaf aku mendampingimu dengan cara yang begini. Maaf aku belum dapat sepenuhnya menjadi seperti yang kau ingin . Maaf anak kecil ini telah jatuh cinta padamu . Maaf jika kau selalu menjadi ujung pelampiasan kekesalanku. Maaf jika kau ikut terpancing amarahku. Maaf jika aku membuatmu kecewa untuk yang kesekian kalinya. Sesungguhnya aku mau menjadi seperti yang kau ingin. Sesungguhnya aku mau berjalan berdampingan denganmu hingga di ujung nanti. Aku mencintaimu, iya walaupun dengan cara yang salah. Aku masih bertahan dan mempertahankanmu, iya walaupun dengan sikap yang salah. Aku menginginkamu, iya walaupun dengan cara yang salah. Aku menyayangimu, iya walaupun dengan segala kelemahanku. Raut kesal itu, raut kecewa itu, raut marah itu, iya aku tahu bahwa akulah yang menciptakannya. Maaf. Maaf aku hadir di kehidupanmu dan menghancurkan segalanya. Maaf aku terlalu lemah untuk berada berdampingan denganmu. Maaf aku tak sehe...

Menunggu hatimu membuka?

Hatiku telah utuh, telah siap untuk kembali dijamah. Telah siap dimiliki dan telah siap kuberi. Hati ini untukmu, hati utuh ini hanya untukmu. Jadi, bolehkah aku memiliki hatimu? Kapan pintu misterius itu terbuka? Kapan aku bisa memiliki utuhnya hatimu? Haruskah aku melangkah dengan penuh harap? Harap memiliki hatimu seutuhnya misalnya. Atau, haruskah aku menghapus total harap itu? Haruskah aku terdiam menunggu sendiri tanpa harapan kecil itu? Kenapa hatimu begitu rapat? Kunci apa yang menutupnya? Apakah kunci milikku tak mampu membukanya? Serapat apa hatimu hingga sulit membuka? Sekeras apa hatimu hingga sulit melunak? Setajam apa pendirianmu untuk bertahan tak membuka pintu itu? Aku masih disini, masih menunggu hatimu membuka. Aku masih melangkah berdampingan denganmu dan tetap berharap hatimu membuka. Aku masih memelukmu hangat dan tetap berdoa hatimu membuka. Aku masih menggenggam tanganmu lembut dan masih menginginkan hatimu membuka. Dan walau dalam diam, ak...

Jadi, apakah kau mengetahuinya?

Dan ketika diri ini kembali ke titik nol. Ketika hati ini kembali membentuk rupa sendiri. Ketika mata ini perlahan mengeluarkan peluh di pelupuk. Ketika bibir ini tersenyum tenang tanpa harap. Ketika lengan ini melepas diri dari kaitan. Ketika telinga ini mencoba biasa tanpa melodi. Ketika kaki ini mulai melangkah berbelok. Tak ada belaian lembut mu di belokan ini. Tak ada merdu melodi mu di belokan ini. Tak ada sapaan renyah mu di belokan ini. Tak ada kau di belokan ini. Hanya ada cahaya. Cahaya yang menyilaukan. Mungkin kau merasa tersakiti dengan aku yang meninggalkanmu tanpa alasan. Tapi apakah kau tau bahwa akulah yang jauh lebih merasa tersakiti? Mungkin kau merasa aku jahat karena meninggalkan kau yang hampir memilihku. Tapi apakah kau tahu bahwa aku merasa lebih jahat menyakiti diri sendiri, menipu hati sendiri? Mungkin kau merasa bodoh pernah berjalan berdampingan denganku, melewati hari bersamaku. Tapi apakah kau tahu bahwa aku merasa sanga...

Dan aku berhenti ...

Sudah waktunya kuharus pergi . Menjauh dari hadapanmu dan sekitaranmu. Sudah seharusnya aku berhenti . Berhenti menemani perjalananmu setiap harinya. Sudah sewajarnya aku mundur . Kisah ini terlalu menyita pikiran dan perhatianku. Sudah sepantasnya aku menghilang . Tak terlalu penting hadirnya tubuh kecil ini di tengah perjalananmu. Dan kini aku telah berhenti, menjauh dari dirimu dan dari kisah kita. Aku mencintaimu, sungguh . Dan seharusnya kau tahu itu. Aku menyayangimu, seutuhnya . Dan seharunya kau sadar itu. Aku menginginkanmu, sepenuhnya . Dan seharusnya kau dapat wujudkan itu. Aku terlalu lelah, bukan lelah menghadapimu. Hanya terlalu lelah menjalani kisah konyol tak berkesudahan ini. Aku butuh istirahat, aku butuh terlelap sejenak untuk mengembalikan kuatnya aku. Lanjutkan jalan panjang yang sudah bertahun-tahun kau jalani. Lanjutkan kisah panjang yang selalu kau perjuangkan. Aku lelah. Aku berhenti. Aku siap menjauh. Untuk bahagiamu. Untuk senyum mu. T...

Cemburu?

Cemburu? Rasa yang bagaimana cemburu itu? Menyesakkan? Ah-ya, bahkan lebih dari itu.Menyesakkan ditambah dengan menyedihkan Boleh menangis? Hanya untuk meredakan sesak di dada Tapi aku malu menangis karena cemburu terlebih karena dia Tapi aku pula tak sanggup menahan bulir air ini Cemburu? Aku ingat soal janji yang akan berusaha untuk tidak cemburu walaupun secuil Aku selalu berusaha untuk tidak mengusik masa lalu mu Aku selalu berusaha untuk biasa Aku sellau berusaha untuk tidak cemburu, untuk tidak cemburu Semenyesakkan apapun gumpalan kecemburuan itu menghambat aliran udara di tubuhku, aku akan berusaha untuk biasa Semiris apapun pisau cemburu mengiris keyakinan ku, aku akan tetap bertahan berdiri tegak Sebesar apapun bor cemburu yang membobol benteng kepercayaanku, aku akan tetap bertahan percaya sepenuhnya Sesulit apapun kamu mencintaiku, aku akan tetap mencintaimu dan menambah rasa cinta itu setiap harinya

Akhirnya bertemu denganmu...

Dan pada akhirnya aku menemukanmu Saat berada di titik terjenuh aku mendapatkanmu, semangat hidup baru Di pojok ruangan yang gelap gulita, aku bertemu denganmu kilau cahaya Di luasnya jagad raya, aku berjumpa denganmu yang berhasil membuatku ada kembali Di bisingnya kendaraan yang lalu-lalang, aku mendengar alunan suara lembut mu Di dinginnya malam, di dinginnya puncak gunung, aku cukup merasa hangat berada di peluk mu Di kerasnya hidup, aku mendapatkan kelembutan dari tutur kata mu Di hidup ku yang berumur 18 tahun 8 bulan 23 hari aku mendapatkanmu, aku menemukanmu Tidak sepenuhnya tapi aku sepenuhnya berada di peluk mu Tiada yang begitu menakjubkan dariku Tapi bagiku, kamu begitu menakjubkan, kamu pantas di pertahankan Pemahaman ku berubah semenjak ada kamu, semenjak mendapatkanmu Senyuman ku tercipta karena kamu Tawa ku muncul karena kamu Semua karena kamu Benar, aku telah melalui jalan yang harus kulalui Untuk bertemu denganmu tentunya Untuk menyentuh nyata s...

Sesuka hatimu

Aku tak memaksamu untuk terus berada disampingku, menemaniku Aku tak meyalahkanmu atas sakit yang tercipta atas perbuatanmu Aku tak melarangmu untuk terus berhubungan denganya Aku malu masih terus menggalaukan mu seperti ini Aku malu... Tetapi malu ku kalah besar dengan cintaku Malu ku kalah kuat dengan kuatnya komitmen ku untuk setia padamu Malu ku tak selemah perasaanku yang mudah menangis Kamu tidak pernah tahu saja aku selalu merindukanmu Rindu yang tak berkurang barang setitik pun Kamu masih terus saja mencari pemuja lain Kamu masih saja betah mengabaikanku yang terlau kecil dimatamu Aku yang tak pernah bosan terus menantimu dengan senyuman Aku yang pandai menutup rapat kesedihan ini saat menyapamu Aku yang tak pernah bisa melenyapkanmu dari anganku Kamu salah satu cita-cita terbesarku Kamu... Kamu yang dengan sesuka hatimu melemparku dari kursi disebelahmu Kamu yang dengan sesuka hatimu memeluk kemudian mendorongku Kamu yang dengan sesuk...

Ujung tatapan...

Kepadamu yang telah lenyap dari ujung tatapanku Matahari pun belum beristirahat Anak ayam belum kembali ke kandang Kaki ku belum smepat menapaki pintu masuk rumah Tapi kamu telah lenyap, telah menghilang dari ujung tatapanku Secepat apa kamu menghilang? Dan secepat itu pula kah kau kembali? Secepat apa? Selama ini kah? Apa aku harus larut bersama khayalku? Apa aku harus meringkuk memeluk lutut sambil menyebut namamu? Kepadamu yang telah bersamanya Aku terantuk diruang kelas Aku menulis untukmu Aku sabar mendengar dosen ini mengajar panjang lebar tapi mengapa aku tak pernah sabar menunggumu? Tak sabar ingin berjumpa denganmu Mengapa pula kau tidak berusaha menghubungiku? Bahagiakah kamu disana? Bahagiakah kamu bersamanya? Cintaku untuk bahagiamu Dan ini bahagia ku Mencintaimu dan menunjukkan itu di ujung tatapan mu