Postingan

Berlayar...

Kita... Dulu... Sebelumnya... Bermula dari sebuah pantai, mencoba berlayar di tepian. Miliki mimpi dan khayal yang dengan di lautan, menggoda kita berlayar, bersama. Pantai menggoda kita tuk berlayar bersama. Sampan bambu... Belum sempat melepas kaitan, karang tajam menahan. Terombang-ambing, tak tahu harus apa. Baru saja siap sampan bambu mendayung, dayung tlah terjerat rumput laut. Membuat kita kegerahan. Matahari semakin membakar, air laut tetap asin dan keringat terus mengalir. Di sampan bambu... Berbekal seadanya, berdoa tetap cukup karena dikira tak lama. Sampan bambu tak lagi terjerat... Tapi membawa kita ke tepian... Semesta meminta kita tuk membangun tempat yang diharap lebih kuat. Perahu... Kita membangun perahu, lebih kuat dari sebuah sampan bambu. Perahu itu, hanya ada kita berdua di atasnya. Mendayung bergantian, tetapi tetap satu arah. Mendayung berdampingan. Harapan sempurna membuat kita terus berlayar. Meski ombak menggetarkan perahu kita. M...

Untukmu, wahai wanita

Untukmu, wanita yang kini menggenggam tangannya. Pria yang kini kau genggam adalah pria yang pernah ku peluk erat. Mungkin genggaman mu lebih menghangatkannya dibanding pelukan eratku. Mungkin senyuman mu lebih menenangkannya dibanding tawa ku. Mungkin belaian mu lebih lembut dibanding kecup ku. Untukmu, wanita yang kini berjalan berdampingan dengannya. Pria yang kini melangkah bersama mu adalah pria yang tak pernah beranjak dari sisi ku. Mungkin ukiran mu lebih indah untuk sebuah kisah dibanding tulisan sederhana dalam kisah. Mungkin hadirmu lebih membahagiakannya dibanding adanya aku di harinya. Untukmu, wanita yang kini menghuni istana ku. Istana dimana kau berada kini adalah tempat ternyaman yang selalu menuntun tuk pulang. Teduhmu kini adalah teduh yang hanya aku dan pria ku di dalamnya. Untukmu, wanita yang kini bersama pria ku. Bisakah kau mencintainya lebih dari aku? Kuharap, ya. Bisakah kau memperlakukannya lebih baik dari aku? Kuha...

Apakah kau ingat?

Sebelum dia yang kau sebut kesayangan. Apakah kau ingat, bahwa aku dulu kesayangan yang kau sebut satu-satunya? Sebelum dia yang kau sapa tiap pagi menjemput dan malam meredup. Apakah kau ingat, bahwa aku satu-satunya yang kau sapa? Sebelum dia yang kau sebut kekasih. Apakah kau ingat, bahwa aku dulu kekasihmu? Sebelum dia yang kini memiliki mu. Dulu, hanya aku yang memiliki mu, hanya aku yang dimiliki mu. Sebelum dia yang dapat memberi mu segalanya. Dulu, dulu sekali, dulu, ada aku.

Bagaimana pun kasih..

Bagaimana pun wajah yang kau tampakkan di depan ku, aku tahu kau mencintaiku begitu besar. Bagaimana pun senyum yang kau sunggingkan di hadapanku, aku tahu  kau akan melakukan apapun untuk ku. Bagaimana pun cara mu memeluk ku, aku tahu kau tak akan pernah melepasku. Bagaimana pun kau menggenggam jemariku, aku tahu hanya aku satu-satunya wanita yang kau pilih. Bagaimana pun itu kasih, aku tahu cinta mu tak berkurang walau setitik. Jika wajah ini, senyum ini, tatap mata seperti ini pantas menjadi penyejukmu maka jangan pernah kau alihkan pandanganmu. Jika jemari ini, lengan ini dan tubuh seperti ini pantas bersanding dengan mu maka peluklah erat kasih. Kasih, berjanjilah kau tak akan pernah melepaskan tubuh ini dari dekapanmu ..

Mencoba biasa.

Mencoba biasa tanpa s apaanmu setiap paginya Mencoba biasa tanpa senyum dari bibir lembutmu Mencoba biasa memiliki rindu tak tertahan seperti ini Mencoba biasa tanpa peluk hangat tubuhmu Mencoba biasa tanpa kecup lembut darimu Mencoba biasa tak ada kamu ditiap detik hidupku Tapi aku sudah terbiasa mencintaimu dan menambah cinta itu setiap harinya. Aku sudah terbiasa mendekap tubuhmu dengan kedua tanganku. Aku sudah terbiasa mendapat sapaan dan senyum lembut dari bibirmu. Aku sudah terbiasa ditemanimu setiap detiknya. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu! Apakah tanpamu akan menjadi kebiasaan baru bagiku? Apakah tiada sosokmu akan menjadi suasana baru bagiku? Apakah benar kita hanya ditakdirkan berjumpa untuk berpisah? Harap yang ada masih mekar dengan indah. Harap yang tertulis masih sabar untuk diselesaikan. Harap yang tumbuh masih terus bertumbuh tinggi. Harap itu hanya padamu.

Apakah kau masih mencintainya?

Apakah dia terlalu melekat dengan tubuhmu? Apakah dia terlalu berkesan di perjalananmu? Apakah kau terlalu mencintainya? Sebesar apa cinta yang kau beri padanya? Sebesar apa dia mendominasi hidupmu? Disaat semua rasa yang tercipta karenamu hanya bertepuk sebelah tangan ... Disaat cinta besarmu masih bersemayam di pelukannya ... Dan disaat hadirku hanya kau anggap semu ... Berapa lama lagi aku bertahan dengan keadaan yang kau anggap semu begini? Berapa lama kau akan tinggal dihatinya? Berapa lama lagi aku harus menunggu agar kau dapat mencintaiku sepenuh hatimu? Tidakkah dirimu lebih berat padanya? Tidakkah aku tak pantas untuk tetap dipertahankan? Tidakkah hatimu terpaku erat pada dirinya? Mengapa kau tetap bertahan padahal kau tak cinta. Mengapa kau berteriak padahal kau tak butuh. Mengapa kau ada padahal kau benci. Mengapa keadaan seperti ini yang kau buat?

Bagaimana bisa?

Dan ketika rasa ini berakhir layu. Ketika rasa ini tak kau gubris. Ketika rasa ini hanya menjadi hal yang menyiksa. Ketika kau pergi tanpa mempertanyakan apa yang kurasa ... Bagaimana aku bisa menyirami kembali rasa yang telah layu ini? Sedangkan kau telah menjauh, kau telah pergi ... Bagaimana caraku untuk mendapat perhatianmu? Sedangkan segala cara yang kubisa hanya berakhir sia-sia ... Bagaimana agar rasa ini menjadi hal yang menyenangkan? Sedangkan kau hanya berkutat dengan rasamu ... Bagaimana bisa kau pergi tanpa bertanya apa yang akan terjadi padaku selepas kau pergi? Bagaimana kau bisa mengetahui apa rasa yang kupendam padamu? Sedangkan kau tak pernah mempertanyakannya ...