Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Berlayar...

Kita... Dulu... Sebelumnya... Bermula dari sebuah pantai, mencoba berlayar di tepian. Miliki mimpi dan khayal yang dengan di lautan, menggoda kita berlayar, bersama. Pantai menggoda kita tuk berlayar bersama. Sampan bambu... Belum sempat melepas kaitan, karang tajam menahan. Terombang-ambing, tak tahu harus apa. Baru saja siap sampan bambu mendayung, dayung tlah terjerat rumput laut. Membuat kita kegerahan. Matahari semakin membakar, air laut tetap asin dan keringat terus mengalir. Di sampan bambu... Berbekal seadanya, berdoa tetap cukup karena dikira tak lama. Sampan bambu tak lagi terjerat... Tapi membawa kita ke tepian... Semesta meminta kita tuk membangun tempat yang diharap lebih kuat. Perahu... Kita membangun perahu, lebih kuat dari sebuah sampan bambu. Perahu itu, hanya ada kita berdua di atasnya. Mendayung bergantian, tetapi tetap satu arah. Mendayung berdampingan. Harapan sempurna membuat kita terus berlayar. Meski ombak menggetarkan perahu kita. M...

Untukmu, wahai wanita

Untukmu, wanita yang kini menggenggam tangannya. Pria yang kini kau genggam adalah pria yang pernah ku peluk erat. Mungkin genggaman mu lebih menghangatkannya dibanding pelukan eratku. Mungkin senyuman mu lebih menenangkannya dibanding tawa ku. Mungkin belaian mu lebih lembut dibanding kecup ku. Untukmu, wanita yang kini berjalan berdampingan dengannya. Pria yang kini melangkah bersama mu adalah pria yang tak pernah beranjak dari sisi ku. Mungkin ukiran mu lebih indah untuk sebuah kisah dibanding tulisan sederhana dalam kisah. Mungkin hadirmu lebih membahagiakannya dibanding adanya aku di harinya. Untukmu, wanita yang kini menghuni istana ku. Istana dimana kau berada kini adalah tempat ternyaman yang selalu menuntun tuk pulang. Teduhmu kini adalah teduh yang hanya aku dan pria ku di dalamnya. Untukmu, wanita yang kini bersama pria ku. Bisakah kau mencintainya lebih dari aku? Kuharap, ya. Bisakah kau memperlakukannya lebih baik dari aku? Kuha...

Apakah kau ingat?

Sebelum dia yang kau sebut kesayangan. Apakah kau ingat, bahwa aku dulu kesayangan yang kau sebut satu-satunya? Sebelum dia yang kau sapa tiap pagi menjemput dan malam meredup. Apakah kau ingat, bahwa aku satu-satunya yang kau sapa? Sebelum dia yang kau sebut kekasih. Apakah kau ingat, bahwa aku dulu kekasihmu? Sebelum dia yang kini memiliki mu. Dulu, hanya aku yang memiliki mu, hanya aku yang dimiliki mu. Sebelum dia yang dapat memberi mu segalanya. Dulu, dulu sekali, dulu, ada aku.