Berlayar...
Kita... Dulu... Sebelumnya...
Bermula dari sebuah pantai, mencoba berlayar di tepian.
Miliki mimpi dan khayal yang dengan di lautan, menggoda kita berlayar, bersama.
Pantai menggoda kita tuk berlayar bersama.
Sampan bambu...
Belum sempat melepas kaitan, karang tajam menahan.
Terombang-ambing, tak tahu harus apa.
Baru saja siap sampan bambu mendayung, dayung tlah terjerat rumput laut.
Membuat kita kegerahan.
Matahari semakin membakar, air laut tetap asin dan keringat terus mengalir.
Di sampan bambu...
Berbekal seadanya, berdoa tetap cukup karena dikira tak lama.
Sampan bambu tak lagi terjerat... Tapi membawa kita ke tepian...
Semesta meminta kita tuk membangun tempat yang diharap lebih kuat.
Perahu...
Kita membangun perahu, lebih kuat dari sebuah sampan bambu.
Perahu itu, hanya ada kita berdua di atasnya.
Mendayung bergantian, tetapi tetap satu arah.
Mendayung berdampingan.
Harapan sempurna membuat kita terus berlayar.
Meski ombak menggetarkan perahu kita.
Meski ombak bergulung bergantian ke arah perahu.
Kita tetap bertahan berada di atas perahu dan kita tetap berdua di atas perahu.
Ombak menyerah dan mulai merasa sedikit aman.
Perahu berhasil menantang ombak.
Tak cukup hanya kuat dan aman.
Kita berlabuh, mengubah perahu menjadi kapal layar yang diharap nyaman.
Kapal layar...
Dengan layar putih membentang, kita berlayar...
Masih dengan orang yang sama, masih dengan sepasang manusia yang sama.
Kau... Kau bertanggung jawab atas tuas kendali.
Dan aku... Aku memastikan layar tetap membentang.
Tak hanya ombak tinggi yang bergulung.
Tapi juga badai.
Sekian kali badai menghampiri kapal layar, sekian kali pula tuas kemudi terlepas dari genggaman mu.
Dan sekian kali layar putih membentang itu sobek.
Seperti yang kau tahu.
Kapal layar kita tak pernah karam.
Berulang kali kita memperbaiki tuas yang patah dan mejahit ulang layar yang sobek.
Dan kau, lebih tepatnya kita memutusan untuk berlayar dengan sebuah kapal pesiar.
Kapal pesiar...
Tempat yang kau gunakan tuk berlayar bersama ku.
Tempat yang diharap aman dan nyaman.
Tempat yang kita gunakan tuk berlayar di lautan dan berlabuh di tempat impian.
Kapal pesiar...
Menantang ombak, badai dan bahkan perompak tanpa ragu.
Kapal pesiar kita, sangat kokoh.
Kau tetap menjadi pemilik sekaligus nahkoda kapal.
Dan aku, memastikan sang nahkoda tetap berlayar.
Kapal pesiar, pernah menjadi tempat ternyaman kita.
Bertahun kapal pesiar kita berlayar.
Ombak tinggi yang kini terlihat kecil masih terus bergulung ke arah kita.
Kita... Kapal pesiar kita sangat kuat tuk segulung ombak.
Kapal pesiar kita kokoh.
Tapi tidak dengan nahkoda-ku...
Selama ini, kita hanya memastikan 'tempat' berlayar kuat, aman, nyaman dan kokoh.
Tapi tidak dengan penghuninya.
Ternyata, nahkoda-ku tak sekuat kapal pesiarnya...
Seorang gadis diatas sebatang kayu, berenang mendekat, menghampiri kapal pesiar kami.
Nahkoda-ku terlalu lemah.
Nahkoda-ku yang berjanji pesiar hanya tuk kami, tapi ia ajak gadis kayu menaiki pesiar kami.
Nahkoda-ku tak sekokoh pesiarnya...
Nahkoda-ku simpati berlebih pada gadis kayu.
Ternyata...
Wanita nahkoda hanya memastikan pesiarnya nyaman.
Tapi lupa tuk memastikan sang nahkoda merasa nyaman.
Ternyata...
Gadis kayu jatuh cinta pada nahkoda-ku dan begitupun sebaliknya.
Wanita nahkoda dilempar tanpa bekal apapun, diusir tanpa ampun secuilpun.
Wanita nahkoda terlalu nyaman berlayar hingga lupa bagaimana berenang.
Pesiar itu... Kini...
Bukan lagi milik nahkoda-ku, tapi milik nahkoda-gadis kayu.
Sang wanita tenggelam tapi berusaha bernapas.
Sang wanita menyentuh dasar laut dengan menatap pesiar-nya.
Pesiar-nya bukan lagi pesiar-nya.
Nahkoda-nya bukan lagi nahkoda-nya.
Semua milik-nya bukan lagi milik-nya.
Pesiar tetap berlayar, meninggalkan-nya tenggelam.
Pesiar-nya, pesiar yang pernah dihuni-nya.
Nahkoda-nya, nahkoda yang pernah dimiliki-nya.
Kini telah berbahagia bersama gadis kayu di dalamnya.
Bermula dari sebuah pantai, mencoba berlayar di tepian.
Miliki mimpi dan khayal yang dengan di lautan, menggoda kita berlayar, bersama.
Pantai menggoda kita tuk berlayar bersama.
Sampan bambu...
Belum sempat melepas kaitan, karang tajam menahan.
Terombang-ambing, tak tahu harus apa.
Baru saja siap sampan bambu mendayung, dayung tlah terjerat rumput laut.
Membuat kita kegerahan.
Matahari semakin membakar, air laut tetap asin dan keringat terus mengalir.
Di sampan bambu...
Berbekal seadanya, berdoa tetap cukup karena dikira tak lama.
Sampan bambu tak lagi terjerat... Tapi membawa kita ke tepian...
Semesta meminta kita tuk membangun tempat yang diharap lebih kuat.
Perahu...
Kita membangun perahu, lebih kuat dari sebuah sampan bambu.
Perahu itu, hanya ada kita berdua di atasnya.
Mendayung bergantian, tetapi tetap satu arah.
Mendayung berdampingan.
Harapan sempurna membuat kita terus berlayar.
Meski ombak menggetarkan perahu kita.
Meski ombak bergulung bergantian ke arah perahu.
Kita tetap bertahan berada di atas perahu dan kita tetap berdua di atas perahu.
Ombak menyerah dan mulai merasa sedikit aman.
Perahu berhasil menantang ombak.
Tak cukup hanya kuat dan aman.
Kita berlabuh, mengubah perahu menjadi kapal layar yang diharap nyaman.
Kapal layar...
Dengan layar putih membentang, kita berlayar...
Masih dengan orang yang sama, masih dengan sepasang manusia yang sama.
Kau... Kau bertanggung jawab atas tuas kendali.
Dan aku... Aku memastikan layar tetap membentang.
Tak hanya ombak tinggi yang bergulung.
Tapi juga badai.
Sekian kali badai menghampiri kapal layar, sekian kali pula tuas kemudi terlepas dari genggaman mu.
Dan sekian kali layar putih membentang itu sobek.
Seperti yang kau tahu.
Kapal layar kita tak pernah karam.
Berulang kali kita memperbaiki tuas yang patah dan mejahit ulang layar yang sobek.
Dan kau, lebih tepatnya kita memutusan untuk berlayar dengan sebuah kapal pesiar.
Kapal pesiar...
Tempat yang kau gunakan tuk berlayar bersama ku.
Tempat yang diharap aman dan nyaman.
Tempat yang kita gunakan tuk berlayar di lautan dan berlabuh di tempat impian.
Kapal pesiar...
Menantang ombak, badai dan bahkan perompak tanpa ragu.
Kapal pesiar kita, sangat kokoh.
Kau tetap menjadi pemilik sekaligus nahkoda kapal.
Dan aku, memastikan sang nahkoda tetap berlayar.
Kapal pesiar, pernah menjadi tempat ternyaman kita.
Bertahun kapal pesiar kita berlayar.
Ombak tinggi yang kini terlihat kecil masih terus bergulung ke arah kita.
Kita... Kapal pesiar kita sangat kuat tuk segulung ombak.
Kapal pesiar kita kokoh.
Tapi tidak dengan nahkoda-ku...
Selama ini, kita hanya memastikan 'tempat' berlayar kuat, aman, nyaman dan kokoh.
Tapi tidak dengan penghuninya.
Ternyata, nahkoda-ku tak sekuat kapal pesiarnya...
Seorang gadis diatas sebatang kayu, berenang mendekat, menghampiri kapal pesiar kami.
Nahkoda-ku terlalu lemah.
Nahkoda-ku yang berjanji pesiar hanya tuk kami, tapi ia ajak gadis kayu menaiki pesiar kami.
Nahkoda-ku tak sekokoh pesiarnya...
Nahkoda-ku simpati berlebih pada gadis kayu.
Ternyata...
Wanita nahkoda hanya memastikan pesiarnya nyaman.
Tapi lupa tuk memastikan sang nahkoda merasa nyaman.
Ternyata...
Gadis kayu jatuh cinta pada nahkoda-ku dan begitupun sebaliknya.
Wanita nahkoda dilempar tanpa bekal apapun, diusir tanpa ampun secuilpun.
Wanita nahkoda terlalu nyaman berlayar hingga lupa bagaimana berenang.
Pesiar itu... Kini...
Bukan lagi milik nahkoda-ku, tapi milik nahkoda-gadis kayu.
Sang wanita tenggelam tapi berusaha bernapas.
Sang wanita menyentuh dasar laut dengan menatap pesiar-nya.
Pesiar-nya bukan lagi pesiar-nya.
Nahkoda-nya bukan lagi nahkoda-nya.
Semua milik-nya bukan lagi milik-nya.
Pesiar tetap berlayar, meninggalkan-nya tenggelam.
Pesiar-nya, pesiar yang pernah dihuni-nya.
Nahkoda-nya, nahkoda yang pernah dimiliki-nya.
Kini telah berbahagia bersama gadis kayu di dalamnya.
4 Oktober 2018