Untukmu, wahai wanita

Untukmu, wanita yang kini menggenggam tangannya.
Pria yang kini kau genggam adalah pria yang pernah ku peluk erat.

Mungkin genggaman mu lebih menghangatkannya dibanding pelukan eratku.
Mungkin senyuman mu lebih menenangkannya dibanding tawa ku.
Mungkin belaian mu lebih lembut dibanding kecup ku.

Untukmu, wanita yang kini berjalan berdampingan dengannya.
Pria yang kini melangkah bersama mu adalah pria yang tak pernah beranjak dari sisi ku.

Mungkin ukiran mu lebih indah untuk sebuah kisah dibanding tulisan sederhana dalam kisah.
Mungkin hadirmu lebih membahagiakannya dibanding adanya aku di harinya.

Untukmu, wanita yang kini menghuni istana ku.

Istana dimana kau berada kini adalah tempat ternyaman yang selalu menuntun tuk pulang.
Teduhmu kini adalah teduh yang hanya aku dan pria ku di dalamnya.

Untukmu, wanita yang kini bersama pria ku.
Bisakah kau mencintainya lebih dari aku?
Kuharap, ya.
Bisakah kau memperlakukannya lebih baik dari aku?
Kuharal, kau bisa.

Untukmu, wanita yang telah mengambil pria ku tanpa ragu.
Satu pintaku, miliki ia dengan ego mu yang tanpa ampun merebutnya dari sisi ku.

Postingan populer dari blog ini

Sedikit mengabaikan...

Sampah...