Sampah...

Sekedar mengabaikanmu mungkin bisa
Tapi itu tidak berlangsung lama, hanya sekejap
Sejenak kemudian tuntutan hidup memaksa untuk mengingatmu
Pertumbuhanmu semakin hari semakin pesat
Upaya apa yang harus kami lakukan?
Upaya apa?

Lingkungan merengek minta untuk diperhatikan
Dunia murka akan adanya kamu
Aku sadar bahwa sepenuhnya ini bukan salahmu
Aku tau bahwa kau pun tak mau selalu berada di bawah, di kasta terbawah
Ini kesalahan terbesar kami, kami makhluk yang bernama manusia
Manusia yang menciptakanmu, manusia pula yg membuatmu tumbuh lebih cepat
Manusia pula yang pada akhirnya akan menjadi korban dari ciptaan dan perbuatan yang dilakukannya setiap hari

Segala upaya pun telah dianjurkan, tapi apa? Apa hasilnya? Mana praktiknya?
Manusia belum merasakan akibat perbuatannya
Manusia tetap mengabaikanmu, tetap bersikap acuh pada lingkungan dan tetap mengotori dunia
Pada akhirnya maaf dan penyesalan pun tidak akan berguna tanpa ada usaha untuk mengatasimu, untuk mengurangi jumlahmu, dan untuk menghentikan pertumbuhanmu

Sampah...
Jika saja kau dapat dengan sendirinya berhenti berproduksi
Jika saja semua manusia paham akan bahayanya dirimu
Jika saja aku dapat mengatasimu sendirian
Jika saja manusia peduli akan keberadaanmu
Jika saja... Ah aku hanya dapat berandai-andai
Tapi sampah, mengertilah bahwa masih ada manusia lain walaupun segelintir yang tetap berupaya mengatasimu


nb: Puisi ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah PTPSP (Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Sampah Padat) semata...

Postingan populer dari blog ini

Sedikit mengabaikan...

Untukmu, wahai wanita