Langit dan Bumi

Aku yang bermimpi terlalu jauh untuk mendapatkanmu
Padahal kita bagaikan langit dan bumi
Kamu sang langit sedangkan aku bumi yang kotor

Aku terpukau akan keindahanmu
Aku bermimpi untuk melangkah bersamamu
Aku terlalu bahagia melihatmu yang di atas sehingga aku lupa akan keberadaanku
Aku yang tak pernah lelah mendangak untuk menatapmu
Kini aku tersadar, aku bagaikan bumi, bumi yang terlalu jauh untuk menggapaimu

Tapi, salahkah aku mengagumi?
Sekedar menyapamu lewat pesan singkat bukan hal yang memalukan bukan?
Aku sadari siapa aku, aku bukan siapa-siapa untukmu
Tapi bagiku, kamu terbaik untukku

Seketika aku remuk saat mengetahui kau sedang bersama orang lain
Seketika aku terdiam mengetahui ceritamu bersama dia
Tapi tak apa, aku sadar diri, aku bukan siapa-siapa

Aku hanya bisa mengagumi dari sini, di bawah sini
Aku hanya bisa tersenyum saat mendangak melihatmu
Kau peneduhku, kau bagaikan langit untukku
Kau indah, kau keindahan dari Tuhan

Aku sadar kita tak kan pernah berdiri berdampingan
Kau langit dan aku bumi
Tapi bukankah bukan langit jika tak ada bumi?
Tak apa aku sebagai pelengkapmu
Tak apa aku sebagai tempat jatuhnya air dari dirimu langit

Aku bahagia, walau tak harus berdiri di sampingmu

Postingan populer dari blog ini

Sedikit mengabaikan...

Sampah...

Untukmu, wahai wanita