Teruntuk kamu...

Teruntuk kamu yang melangkah mundur menjauhiku.
Langkahmu mempunyai banyak arti.
Arti yang satu pun tidak aku ketahui.
Langkah yang kuketahui hanya satu. Kamu menjauhiku.

Teruntuk kamu yang tertunduk menghindari tatapanku.
Tidakkah kau ingin melihat raut wajahku?
Atau tidak layak kah aku melihat wajah itu. Wajah yang selalu kurindukan?

Teruntuk kamu yang menghapus nomor ponsel ku dari kontak mu.
Apa alasanmu? Tak berguna lagi kah aku?
Atau terlalu sulit aku dilupakan karena kau merindukan tingkahku?

Teruntuk kamu yang sedang mendekatinya.
Aku menyukai saat pertama kali aku mengenalmu dan bertemu denganmu.
Aku selalu memutar kembali memori yang tiada henti membuat air mata ku menetes.

Teruntuk kamu yang memberi selembar foto itu padaku.
Aku masih menyimpannya. Aku tutup rapat laci itu.
Aku senang kamu memberikannya padaku.
Ada maksud yang indah dibalik itu semua. Aku tahu itu. Walau aku tak tahu maksud itu apa.

Teruntuk kamu yang telah menjadi mantan pacarku.
Terimakasih atas semua hal indah yang telah kau berikan.
Aku hanya tidak bisa bertahan kala itu.

Teruntuk kamu yang telah lama berada disampingku.
Aku menyayangimu. Aku beruntung selalu dekat denganmu.
Bisakah kau berjanji untuk selalu dekat denganku? Berjanjilah pada dirimu.

Teruntuk kamu yang tiada henti memberi harapan padaku.
Aku lelah mendengar semua ucapanmu. Tapi nyatanya hingga sekarang tidak ada kejelasan.
Tujuan cintamu bukanlah aku. Tapi kenapa akau yang harus menjadi tumbal demi mendapatkan cintamu?

Teruntuk kamu yang setia mendengar seluruh kisah hidupku.
Mungkin terlalu membosankan mendengar ceritaku yang itu itu saja. Tapi ketahuilah, hanya kepada mu lah aku bisa menceritakan semuanya. Hanya kepadamu lah aku bisa menunjukkan kelemahan ku.

Teruntuk kamu yang disebut sahabat.
Terimakasih tiada lelah menyemangatiku. Dengan kalian lah aku banyak belajar.
Dengan memiliki kalian lah ketakutan akan hal baru itu teratasi.

Teruntuk kamu yang setahun lamanya tiada henti kurindukan.
Ditahun berikutnya. Diwaktu yang akan datang. Aku tiada henti berharap berjumpa denganmu.
Kamu yang selalu mengacaukan pikiranku. Kamu yang ditakdirkan untuk tidak dipertemuakn denganku.

Teruntuk kedua orangtua ku.
Aku bahagia bersama kalian. Aku mencintai kalian.

Teruntuk kamu tahun 2012.
Terimakasih atas pembelajaran yang telah kau berikan.
Terimakasih atas karma yang terjadi saat aku bersamamu. Terimakasih atas kehilangan yang kau tunjukkan.
Terimakasih telah mengizinkan ku untuk bertemu dengan mu.
Bahagia yang kau berikan akan selalu menjadi cerita tersendiri bagi kisah hidupku.

Teruntuk kamu lah aku berada di dunia ini...

Postingan populer dari blog ini

Sedikit mengabaikan...

Sampah...

Untukmu, wahai wanita