Menunggu hatimu membuka?
Hatiku telah utuh, telah siap untuk kembali dijamah.
Telah siap dimiliki dan telah siap kuberi.
Hati ini untukmu, hati utuh ini hanya untukmu.
Jadi, bolehkah aku memiliki hatimu?
Kapan pintu misterius itu terbuka?
Kapan aku bisa memiliki utuhnya hatimu?
Haruskah aku melangkah dengan penuh harap?
Harap memiliki hatimu seutuhnya misalnya.
Atau, haruskah aku menghapus total harap itu?
Haruskah aku terdiam menunggu sendiri tanpa harapan kecil itu?
Kenapa hatimu begitu rapat?
Kunci apa yang menutupnya? Apakah kunci milikku tak mampu membukanya?
Serapat apa hatimu hingga sulit membuka?
Sekeras apa hatimu hingga sulit melunak?
Setajam apa pendirianmu untuk bertahan tak membuka pintu itu?
Aku masih disini, masih menunggu hatimu membuka.
Aku masih melangkah berdampingan denganmu dan tetap berharap hatimu membuka.
Aku masih memelukmu hangat dan tetap berdoa hatimu membuka.
Aku masih menggenggam tanganmu lembut dan masih menginginkan hatimu membuka.
Dan walau dalam diam, aku masih meminta hatimu membuka.
Telah siap dimiliki dan telah siap kuberi.
Hati ini untukmu, hati utuh ini hanya untukmu.
Jadi, bolehkah aku memiliki hatimu?
Kapan pintu misterius itu terbuka?
Kapan aku bisa memiliki utuhnya hatimu?
Haruskah aku melangkah dengan penuh harap?
Harap memiliki hatimu seutuhnya misalnya.
Atau, haruskah aku menghapus total harap itu?
Haruskah aku terdiam menunggu sendiri tanpa harapan kecil itu?
Kenapa hatimu begitu rapat?
Kunci apa yang menutupnya? Apakah kunci milikku tak mampu membukanya?
Serapat apa hatimu hingga sulit membuka?
Sekeras apa hatimu hingga sulit melunak?
Setajam apa pendirianmu untuk bertahan tak membuka pintu itu?
Aku masih disini, masih menunggu hatimu membuka.
Aku masih melangkah berdampingan denganmu dan tetap berharap hatimu membuka.
Aku masih memelukmu hangat dan tetap berdoa hatimu membuka.
Aku masih menggenggam tanganmu lembut dan masih menginginkan hatimu membuka.
Dan walau dalam diam, aku masih meminta hatimu membuka.