Jadi, apakah kau mengetahuinya?
Dan ketika diri ini kembali ke titik nol.
Ketika hati ini kembali membentuk rupa sendiri.
Ketika mata ini perlahan mengeluarkan peluh di pelupuk.
Ketika bibir ini tersenyum tenang tanpa harap.
Ketika lengan ini melepas diri dari kaitan.
Ketika telinga ini mencoba biasa tanpa melodi.
Ketika kaki ini mulai melangkah berbelok.
Tak ada belaian lembut mu di belokan ini.
Tak ada merdu melodi mu di belokan ini.
Tak ada sapaan renyah mu di belokan ini.
Tak ada kau di belokan ini. Hanya ada cahaya. Cahaya yang menyilaukan.
Mungkin kau merasa tersakiti dengan aku yang meninggalkanmu tanpa alasan.
Tapi apakah kau tau bahwa akulah yang jauh lebih merasa tersakiti?
Mungkin kau merasa aku jahat karena meninggalkan kau yang hampir memilihku.
Tapi apakah kau tahu bahwa aku merasa lebih jahat menyakiti diri sendiri, menipu hati sendiri?
Mungkin kau merasa bodoh pernah berjalan berdampingan denganku, melewati hari bersamaku.
Tapi apakah kau tahu bahwa aku merasa sangat bodoh memilih belokan ini dan berjalan sendirian?
Mungkin kau merasa tiada guna lagi saat aku dengan sadar berkata bahwa aku tak mengejarmu lagi.
Tapi apakah kau tahu bahwa aku merasa guna telah lenyap ketika berlari menghindar darimu?
Alasan?
Cinta tidak butuh alasan bukan?
Jadi tidak salah bukan jika pergi tidak butuh alasan?
Tidak seharusnya pula bertahan memiliki alasan bukan?
Hidup itu pilihan dan pilihan itu ditakdirkan untuk dipilih.
Pilihanku adalah pergi, lalu apa pilihanmu? Bagian mana dari pilihan itu yang membuatmu memilihnya?